
Invalid Date
Dilihat 179 kali

LAGADING, SIDRAP — Matahari boleh terik. Hujan boleh lama tak datang. Tanah boleh mulai retak.
Tetapi petani Lagading tetap menanam.
Dan ketika kemarau panjang datang membawa ancaman El Niño, mereka kembali membuktikan satu hal: keringnya langit tidak selalu berarti keringnya harapan.
Dari 443,33 hektare sawah yang ditanami pada musim ini, sebanyak 387,33 hektare atau 87,37 persen tetap berhasil dipanen.
Jika seluruh hasil tersebut dihitung dengan estimasi produktivitas sementara sekitar 7,33 ton per hektare, maka terdapat sekitar 2.839 ton gabah yang berhasil dihasilkan.
Nilainya?
Sekitar Rp21,01 miliar hingga Rp21,86 miliar.
Angka itu mungkin terlihat sederhana di atas kertas.
Tetapi bagi masyarakat desa, Rp21,86 miliar adalah denyut ekonomi.
Di dalamnya ada biaya sekolah anak petani, kebutuhan rumah tangga, ongkos angkutan, biaya produksi musim berikutnya, aktivitas penggilingan, perdagangan gabah, hingga uang yang kembali berputar dari satu tangan ke tangan lainnya.
Inilah wajah lain pertanian Lagading di tengah kemarau.
Lagading bukan kawasan yang dapat sepenuhnya menggantungkan pertanian pada jaringan irigasi permanen.
Sebagian besar petani masih menghadapi kenyataan sebagai pertanian tadah hujan.
Karena itu, ketika hujan berkurang, risiko bukan sekadar tanaman tumbuh lebih lambat.
Risikonya adalah panen hilang.
Musim ini, sekitar 143 hektare mengalami kekeringan berat dan 180 hektare mengalami kekeringan ringan.
Namun di antara tekanan tersebut, petani tetap berusaha mempertahankan tanaman.
Embung dan titik-titik sumber air dimanfaatkan.
Air dicari.
Air dipindahkan.
Air dihemat.
Apa pun dilakukan agar tanaman tetap hidup sampai masa panen.
Sebab bagi petani, satu tetes air bisa berarti satu rumpun padi yang terselamatkan. Dan satu hektare yang terselamatkan berarti satu bagian dari penghasilan keluarga yang tetap hidup.
Kemarau memang menurunkan daya dukung lahan.
Tetapi bukan berarti semua lahan kehilangan kemampuan berproduksi.
Produktivitas di lapangan tercatat berada pada kisaran 3,36 hingga 11,3 ton per hektare.
Bahkan pada kondisi tertentu, produktivitas mampu mencapai 11,3 ton per hektare.
Di sinilah cerita Lagading menjadi menarik.
Masalahnya bukan petaninya tidak mampu.
Petani mampu.
Tanahnya mampu.
Tanamannya mampu.
Yang masih menjadi pekerjaan besar adalah bagaimana memastikan air tersedia ketika hujan tidak lagi dapat diandalkan.
Tetapi cerita ini belum sepenuhnya bahagia.
Dari 443,33 hektare, masih terdapat 56 hektare yang mengalami puso, atau sekitar 12,63 persen.
Jika menggunakan estimasi produktivitas sementara 7,33 ton per hektare, 56 hektare tersebut sebenarnya berpotensi menghasilkan sekitar 410 ton gabah.
Dengan harga gabah Rp7.400–Rp7.700 per kilogram, potensi nilai produksi yang tidak berhasil diwujudkan diperkirakan mencapai sekitar Rp3,04–Rp3,16 miliar.
Di sinilah pekerjaan rumah berikutnya berada.
Bukan sekadar bagaimana mempertahankan 87 persen yang sudah berhasil.
Tetapi bagaimana agar pada musim berikutnya, 56 hektare yang hari ini kehilangan panen dapat diselamatkan.
Bayangkan jika sebagian besar lahan puso tersebut dapat kembali menghasilkan.
Bukan hanya angka produksi yang bertambah.
Pendapatan petani bertambah. Ekonomi desa bergerak. Ketahanan pangan menguat.
Musim ini memberikan pelajaran yang sangat jelas.
87,37 persen adalah capaian.
Tetapi sekaligus menjadi titik awal untuk mengejar capaian yang lebih tinggi.
Kuncinya adalah air.
Karena itu, penguatan infrastruktur pertanian menjadi sangat penting: embung, bendung, jaringan irigasi, pompanisasi, optimalisasi sumber air, serta konektivitas antarsumber air pertanian.
Semakin kuat sistem air dibangun, semakin kecil ketergantungan petani terhadap kemurahan hujan.
Dan semakin kecil ketergantungan terhadap hujan, semakin besar peluang petani mengubah risiko kekeringan menjadi kepastian produksi.
Kemarau tahun ini memang meninggalkan cerita tentang lahan yang kekurangan air.
Tetapi ia juga meninggalkan cerita tentang petani yang tidak menyerah.
Ada 387,33 hektare yang tetap menghasilkan.
Ada sekitar 2.839 ton gabah yang berpotensi diproduksi.
Ada hingga Rp21,86 miliar nilai produksi yang tetap mengalir ke masyarakat.
Dan ada satu pesan yang jauh lebih besar daripada semua angka tersebut:
Ketika petani diberi air, mereka akan memberi pangan.
Karena itu, membangun infrastruktur air di Lagading bukan hanya membangun saluran.
Kita sedang membangun kepastian panen.
Bukan hanya membangun embung.
Kita sedang menjaga pendapatan keluarga petani.
Bukan hanya menyelamatkan sawah.
Kita sedang menjaga ketahanan pangan dan masa depan ekonomi desa.
El Niño datang membawa panas.
Tetapi petani Lagading menjawabnya dengan kerja.
Hujan berkurang.
Mereka mencari air.
Lahan mengering.
Mereka mempertahankan tanaman.
Sebagian sawah puso.
Tetapi sebagian besar tetap panen.
Dan dari sawah yang berhasil dipertahankan itu, puluhan miliar rupiah nilai ekonomi tetap lahir dari tanah Lagading.
Inilah pertanian yang sesungguhnya:
menanam ketika belum pasti hujan, merawat ketika air terbatas, dan memanen ketika alam memberikan kesempatan.
Lagading menanam.
Lagading bertahan.
Lagading memanen.
Lagading menjaga pangan.
Bagikan:

Desa Lagading
Kecamatan Pitu Raise
Kabupaten Sidenreng Rappang
Provinsi Sulawesi Selatan
© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini