
Invalid Date
Dilihat 55 kali

Petani Sidrap Tak Banyak Bicara, Mereka Membuktikannya Lewat 11,346 Ton Gabah

SIDRAP — Ketika Kabupaten Sidenreng Rappang kerap muncul dalam pemberitaan dengan berbagai stigma negatif, dari Desa Lagading justru datang sebuah cerita berbeda.
Bukan cerita tentang kontroversi.
Bukan tentang kegaduhan.
Bukan pula tentang pekerjaan yang membawa citra buruk bagi generasi muda.
Ini adalah cerita tentang petani yang memilih bekerja, berjuang menghadapi kemarau, mengelola air, dan menghasilkan pangan untuk masyarakat.
Di tengah tekanan musim kemarau dan ancaman kekeringan, Muslimin Kelle, petani dari Kelompok Tani Lagading I, Desa Lagading, Kecamatan Pitu Riase, membuktikan bahwa keterbatasan air bukan alasan untuk berhenti berproduksi.
Lahan seluas 145,85 are atau sekitar 1,46 hektare di kawasan Lompo Lebongnge, Dusun I Lagading, tetap dipertahankan hingga memasuki masa panen dengan memanfaatkan embung dan pompa air 3 inch.
Hasilnya bukan sekadar tanaman yang berhasil dipanen.
Sebanyak 93 karung gabah berhasil dikumpulkan dengan total produksi mencapai 11,346 ton.
Dengan harga gabah Rp7.700 per kilogram, produksi tersebut memiliki nilai ekonomi sekitar:
Rp87.364.200
Jika dihitung berdasarkan luas lahan, produktivitasnya mencapai sekitar 7,78 ton per hektare.
Angka itu menjadi bukti sederhana namun kuat bahwa di balik pemberitaan tentang berbagai persoalan yang melekat pada Kabupaten Sidenreng Rappang, masih terdapat ribuan tangan masyarakat yang setiap hari bekerja menghasilkan sesuatu yang nyata.

KETIKA KEMARAU MENJADI UJIAN
Musim kemarau tidak pernah menjadi sahabat bagi petani.
Air menjadi persoalan. Tanaman membutuhkan pengairan. Biaya produksi tetap berjalan. Sementara hasil panen baru dapat dinikmati setelah melalui proses panjang.
Namun Muslimin Kelle dan petani lainnya memilih menghadapi persoalan tersebut dengan cara yang sederhana:
menyimpan air di embung dan mengalirkannya menggunakan pompa.
Teknologi yang terlihat sederhana itu menjadi sangat berarti ketika sumber air semakin terbatas.
Embung menjadi cadangan.
Pompa 3 inch menjadi sarana distribusi.
Dan petani menjadi aktor utama yang memastikan tanaman tetap hidup sampai menghasilkan.
Di sinilah sebuah pesan penting muncul:
«Pertanian tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Terkadang, yang dibutuhkan adalah kemauan untuk mengelola apa yang tersedia dan keberanian untuk terus bekerja ketika keadaan tidak mudah.»

93 KARUNG YANG BERBICARA
Sebanyak 93 karung gabah mungkin terlihat sebagai angka biasa.
Namun jika angka itu berasal dari lahan yang harus berjuang mendapatkan air di tengah musim kemarau, maka angka tersebut memiliki cerita yang jauh lebih besar.
Di dalamnya ada biaya produksi.
Ada tenaga petani.
Ada pengelolaan air.
Ada waktu berbulan-bulan.
Ada risiko gagal panen.
Dan ada harapan sebuah keluarga yang bergantung pada hasil pertanian.
Karena itu, Rp87,36 juta nilai produksi bukan sekadar angka transaksi.
Ia adalah gambaran bahwa sektor pertanian mampu menciptakan perputaran ekonomi dari desa.
Petani mendapatkan pendapatan.
Tenaga kerja bergerak.
Sarana produksi digunakan.
Gabah masuk ke rantai pangan.
Dan ekonomi masyarakat terus berputar.

SIDRAP PUNYA CERITA LAIN
Kabupaten Sidenreng Rappang tidak hanya terdiri dari berita-berita yang viral.
Tidak hanya terdiri dari persoalan dan kontroversi.
Ada wajah lain yang jarang mendapatkan ruang yang sama besar.
Ada petani yang bangun ketika sebagian orang masih tidur.
Ada sawah yang tetap dikerjakan ketika kemarau datang.
Ada pemuda yang memilih mengembangkan usaha.
Ada masyarakat desa yang membangun ekonominya sedikit demi sedikit.
Dan ada hasil nyata yang tidak membutuhkan banyak kata untuk menjelaskannya.
11,346 ton gabah adalah salah satunya.
Kisah Muslimin Kelle hanyalah satu contoh dari banyak potensi yang tumbuh di desa-desa Kabupaten Sidenreng Rappang.

DARI DESA, UNTUK MEMPERBAIKI CARA MEMANDANG SIDRAP
Pemberitaan memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara masyarakat memandang sebuah daerah.
Jika yang terus ditampilkan hanya sisi negatifnya, maka lama-kelamaan sebuah daerah dapat dikenali hanya melalui stigma.
Tetapi ketika fakta-fakta positif diberikan ruang, masyarakat dapat melihat bahwa sebuah daerah jauh lebih kompleks daripada satu atau dua pemberitaan.
Lagading ingin menunjukkan sisi itu.
Bukan dengan membantah berita.
Bukan dengan menyalahkan media.
Tetapi dengan menghadirkan fakta yang bisa dilihat dan diukur.
Petani bekerja.
Sawah berproduksi.
Gabah dipanen.
Uang berputar.
Keluarga mendapatkan penghasilan.
Dan pangan dihasilkan dari tanah Sidrap sendiri.
Itulah berita yang lahir dari desa.

JANGAN HANYA LIHAT SIDRAP DARI BERITANYA, LIHAT JUGA DARI HASIL KERJANYA
Muslimin Kelle mungkin bukan tokoh besar.
Ia tidak berdiri di atas panggung.
Ia tidak berbicara dengan kamera setiap hari.
Ia hanya seorang petani yang berhadapan dengan sawah, kemarau, air dan risiko produksi.
Namun dari lahan 145,85 are, ia menghasilkan 11,346 ton gabah dengan nilai produksi Rp87.364.200.
Dan dari sana lahir sebuah pesan yang sederhana:
Sidrap masih bekerja.
Sidrap masih berproduksi.
Sidrap masih punya banyak orang yang memilih jalan positif.
Dan desa-desa Sidrap masih menyimpan cerita keberhasilan yang layak diberitakan.
Karena terkadang, cara terbaik melawan stigma bukan dengan berdebat tentang stigma.
Cara terbaik adalah menunjukkan bukti yang tidak bisa dibantah.
Dan di Lagading, salah satu buktinya sedang menguning di hamparan sawah.
93 karung gabah.
11,346 ton produksi.
Rp87,36 juta nilai ekonomi.
Dari petani.
Dari desa.
Untuk pangan.
Untuk keluarga.
Dan untuk menunjukkan kepada Kabupaten Sidenreng Rappang bahwa masih banyak cerita baik yang sedang bekerja dalam diam.
Bagikan:

Desa Lagading
Kecamatan Pitu Raise
Kabupaten Sidenreng Rappang
Provinsi Sulawesi Selatan
© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini