
Invalid Date
Dilihat 67 kali

LAGADING, SIDRAP — Ini bukan cerita yang dibuat untuk sekadar menghibur. Bukan pula kisah yang dibangun dari angan-angan tentang masa depan.

Ini adalah kisah nyata.
Dari sebuah desa di Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang, empat pemuda sedang menunjukkan sesuatu yang mungkin selama ini luput dari perhatian banyak orang:
Bahwa pemuda Sidrap sebenarnya bekerja. Mereka berusaha. Mereka menghasilkan. Dan sebagian dari mereka bahkan sedang membangun sumber penghasilan serta aset bernilai besar dari usaha-usaha yang sangat positif.
Mereka tidak menunggu pekerjaan datang.
Mereka menciptakan pekerjaan dari apa yang tersedia di sekeliling mereka.
Mereka tidak meninggalkan desa karena menganggap desa tidak memiliki masa depan.
Sebaliknya, mereka melihat tanah, ternak, air, teknologi dan potensi pertanian sebagai modal untuk membangun masa depan.
Mereka adalah Herianto, Angga Resky, Paddy, dan Suparman.
Empat pemuda.
Empat bidang usaha.
Empat jalan berbeda.
Namun memiliki satu kesamaan:
Mereka memilih menjadi bagian dari solusi ekonomi, bukan sekadar menjadi pencari pekerjaan.

Bagi Herianto, beternak puyuh bukan sekadar aktivitas mengisi waktu.
Kandang adalah tempat produksi.
Setiap hari ada ternak yang dipelihara, pakan yang dikelola, telur yang dihasilkan, dikumpulkan dan dipasarkan.
Artinya, aktivitas ekonomi tidak berhenti pada pemeliharaan ternak.
Ada produksi.
Ada perputaran barang.
Ada pasar.
Dan ada pendapatan.
Inilah realitas yang sering tidak terlihat ketika masyarakat hanya melihat kandang sebagai bangunan sederhana di belakang rumah.
Padahal di dalamnya terdapat sebuah sistem usaha.
Semakin produktif ternak dikelola, semakin besar pula potensi produksi yang dapat dihasilkan.
Sebagai gambaran sederhana, produksi 1.000 butir telur per hari dengan harga Rp500 per butir memiliki potensi nilai penjualan kotor sekitar Rp15 juta per bulan.
Jika produksi mencapai 2.000 butir per hari, potensi nilai penjualan kotornya dapat mencapai sekitar Rp30 juta per bulan.
Angka tersebut merupakan simulasi potensi, bukan klaim pendapatan pribadi Herianto. Pendapatan bersih tetap bergantung pada pakan, kesehatan ternak, tenaga kerja, mortalitas, harga telur dan biaya operasional lainnya.
Tetapi satu fakta ekonominya jelas:
Dan produk tersebut mempunyai pasar.
Inilah wajah pemuda desa yang sesungguhnya:
bekerja setiap hari, menghasilkan setiap hari, dan membangun usaha sedikit demi sedikit.

Di sisi lain, ada Angga Resky.
Jalannya bukan telur puyuh.
Ia memilih sapi dan kerbau.
Pilihan tersebut memperlihatkan bentuk usaha yang berbeda.
Jika telur menghasilkan arus kas dari produksi yang berlangsung rutin, sapi dan kerbau dapat dikembangkan sebagai aset produktif bernilai tinggi.
Ternak dipelihara.
Bobotnya bertambah.
Nilainya meningkat.
Populasinya dapat berkembang.
Dan dalam jangka panjang, ternak dapat menjadi salah satu bentuk aset ekonomi keluarga.
Bayangkan secara sederhana:
Jika seseorang memiliki 10 ekor ternak dengan asumsi nilai rata-rata Rp20 juta per ekor, maka nilai asetnya mencapai sekitar Rp200 juta.
Jika berkembang menjadi 25 ekor, nilainya secara ilustratif mencapai Rp500 juta.
Jika mencapai 50 ekor, secara ilustratif dapat mencapai Rp1 miliar.
Sekali lagi, angka tersebut bukan klaim mengenai kepemilikan Angga Resky.
Namun ilustrasi tersebut menunjukkan mengapa peternakan dapat menjadi strategi membangun aset.
Dan yang paling penting:
Ia tidak sedang mengejar sesuatu yang negatif.
Ia tidak sedang menunggu belas kasihan.
Ia sedang mengubah potensi ternak menjadi kekuatan ekonomi.

Kemudian ada Paddy.
Paddy memperlihatkan sisi lain dari pemuda desa:
pertanian yang bertemu dengan teknologi.
Pertanian sering kali masih dipandang sebagai pekerjaan berat yang identik dengan cara-cara tradisional.
Tetapi Paddy menunjukkan bahwa paradigma tersebut dapat berubah.
Mesin pertanian bukan hanya alat.
Ia adalah aset produksi.
Kemampuan mengoperasikan teknologi pertanian bukan hanya keterampilan.
Ia adalah peluang usaha.
Ketika teknologi digunakan untuk mengolah lahan sendiri, produktivitas dapat ditingkatkan dan pekerjaan dapat dilakukan lebih efisien.
Namun peluangnya tidak berhenti di sana.
Kemampuan tersebut dapat berkembang menjadi jasa mekanisasi pertanian bagi petani lain.
Di sinilah muncul model:
Seorang petani dapat berkembang menjadi operator.
Operator dapat berkembang menjadi penyedia jasa.
Penyedia jasa dapat berkembang menjadi pengusaha pertanian.
Dan pengusaha pertanian dapat membuka peluang pekerjaan bagi orang lain.
Bertani dengan teknologi.
Mengelola dengan perhitungan.
Bekerja dengan efisiensi.
Dan melihat pertanian sebagai bisnis, bukan sekadar pekerjaan.

Kemudian ada Suparman.
Ia melihat sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat desa:
air.
Namun air tidak berhenti sebagai sumber daya.
Di tangannya, air menjadi media produksi.
Suparman mengembangkan budidaya ikan air tawar, khususnya nila dan mas.
Kolam menjadi tempat produksi.
Bibit menjadi investasi.
Pakan menjadi biaya usaha.
Pemeliharaan menjadi proses produksi.
Pertumbuhan ikan menjadi nilai tambah.
Dan panen menjadi hasil ekonomi.
Secara ilustratif, produksi 1 ton ikan dengan asumsi harga Rp35.000 per kilogram menghasilkan nilai penjualan kotor sekitar Rp35 juta per siklus.
Jika produksi mencapai 2 ton, nilai penjualan kotornya secara ilustratif mencapai sekitar Rp70 juta per siklus.
Angka tersebut kembali merupakan simulasi potensi, bukan klaim pendapatan Suparman.
Namun realitas usahanya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih penting:
Air yang sebelumnya hanya dipandang sebagai sumber daya dapat menjadi kolam produksi.
Kolam dapat menghasilkan ikan.
Ikan masuk ke pasar.
Pasar menciptakan transaksi.
Dan transaksi menghasilkan perputaran ekonomi.

Jika kisah keempat pemuda tersebut dilihat secara bersama-sama, terlihat sebuah gambaran yang lebih besar.
Herianto menunjukkan bahwa kandang dapat menghasilkan produk dan arus pendapatan.
Angga Resky menunjukkan bahwa ternak dapat berkembang menjadi aset bernilai tinggi.
Paddy menunjukkan bahwa teknologi dapat meningkatkan produktivitas sekaligus membuka jasa pertanian.
Suparman menunjukkan bahwa sumber air dapat dikembangkan menjadi produksi perikanan dan nilai ekonomi.
Mereka memang berbeda.
Tetapi outcome-nya memiliki benang merah:
Inilah yang sesungguhnya perlu dilihat lebih jauh.

Ada stigma yang terkadang muncul ketika berbicara tentang generasi muda di daerah.
Seolah-olah pemuda identik dengan mencari pekerjaan.
Seolah-olah masa depan hanya tersedia jika mereka meninggalkan desa.
Seolah-olah pekerjaan yang bernilai harus berada di kantor, perusahaan besar atau kota.
Kisah nyata dari Lagading menunjukkan bahwa pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ada pemuda yang bekerja di kandang.
Ada yang bekerja di sawah.
Ada yang mengoperasikan mesin.
Ada yang mengelola kolam.
Ada yang memasarkan hasil produksi.
Ada yang membangun aset.
Ada yang menciptakan perputaran ekonomi.
Mungkin mereka tidak selalu terlihat memakai pakaian kantor.
Mungkin tempat kerjanya bukan gedung bertingkat.
Tetapi setiap pagi mereka memiliki pekerjaan.
Dan yang lebih penting:

Inilah bagian yang sangat penting.
Outcome dari usaha pemuda tidak boleh hanya diukur dari berapa rupiah yang masuk ke kantong.
Ada outcome lain yang jauh lebih besar.
Ada aset yang bertambah.
Ada produksi yang berjalan.
Ada pasar yang bergerak.
Ada pengalaman yang bertambah.
Ada keterampilan yang meningkat.
Ada rantai ekonomi yang terbentuk.
Dan ketika usaha berkembang, terbuka pula peluang untuk melibatkan orang lain.
Pakan harus dibeli.
Bibit harus tersedia.
Alat harus digunakan.
Hasil harus diangkut.
Produk harus dipasarkan.
Konsumen harus dilayani.
Dengan demikian, satu usaha kecil dapat menciptakan efek ekonomi yang lebih luas.
Kisah dari Lagading ini sesungguhnya bukan hanya tentang empat pemuda.
Ini adalah sebuah pesan pembangunan.
Jika pemerintah daerah ingin melihat ekonomi daerah tumbuh dari bawah, maka pemuda seperti mereka layak mendapatkan ruang untuk berkembang.
Bukan sekadar bantuan.
Tetapi ekosistem usaha.
Pemuda yang mempunyai lahan membutuhkan teknologi.
Pemuda yang mempunyai ternak membutuhkan penguatan manajemen dan akses pasar.
Pemuda yang mempunyai kolam membutuhkan bibit, pakan, teknologi budidaya dan kepastian pasar.
Pemuda yang memiliki kemampuan mekanisasi membutuhkan akses alat, pembiayaan dan jaringan pengguna jasa.
Dan pemuda yang sudah menghasilkan membutuhkan satu hal penting:
Dari usaha kecil menjadi usaha menengah.
Dari peternak menjadi pengusaha peternakan.
Dari petani menjadi pengusaha pertanian.
Dari pembudidaya menjadi pelaku industri perikanan.
Dari operator menjadi penyedia jasa mekanisasi.
Karena bantuan terbaik bukan hanya membuat pemuda mampu memulai.

Bayangkan setiap desa memiliki pemuda produktif.
Ada yang mengembangkan puyuh.
Ada yang ayam.
Ada yang sapi.
Ada yang kambing.
Ada yang kerbau.
Ada yang mengembangkan sawah.
Ada yang mengelola jagung.
Ada yang membangun hortikultura.
Ada yang mengembangkan ikan.
Ada yang mengolah hasil pertanian.
Ada yang bergerak dalam jasa alat pertanian.
Ada yang masuk ke pemasaran digital.
Ada yang membangun perdagangan.
Maka yang tumbuh bukan hanya jumlah usaha.
Satu petani membutuhkan operator.
Operator membutuhkan mesin.
Mesin membutuhkan perawatan.
Hasil panen membutuhkan pengangkutan.
Pengangkutan membutuhkan tenaga kerja.
Hasil produksi membutuhkan pedagang.
Pedagang membutuhkan pasar.
Pasar membutuhkan konsumen.
Begitu satu usaha bergerak, roda ekonomi lainnya ikut berputar.

Lebih dari itu.
Lagading sedang memperlihatkan empat kemungkinan masa depan.
Herianto menunjukkan:
“Kandang bisa menghasilkan.”
Angga Resky menunjukkan:
“Ternak bisa menjadi aset.”
Paddy menunjukkan:
“Teknologi bisa membuat pertanian menjadi lebih produktif dan bernilai.”
Suparman menunjukkan:
“Air bisa menjadi sumber produksi dan penghasilan.”
Dan keempatnya menyampaikan satu pesan yang sama:
Mereka tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sempurna.
Mereka mulai dari apa yang ada.
Satu kandang.
Satu lahan.
Satu mesin.
Satu kolam.
Satu ekor ternak.
Kemudian dikembangkan.
Dikelola.
Diputar.
Diperbesar.

Jika hari ini masih ada yang menganggap bahwa pemuda desa tidak mempunyai masa depan, maka lihatlah Lagading.
Bukan untuk membandingkan siapa yang paling sukses.
Tetapi untuk melihat kemungkinan.
Bahwa masa depan dapat dimulai dari desa.
Bahwa penghasilan dapat dibangun dari usaha produktif.
Bahwa kekayaan dapat dibangun dari aset.
Bahwa teknologi dapat mengubah cara bertani.
Bahwa sumber daya alam dapat menjadi komoditas.
Dan bahwa seorang pemuda tidak harus menunggu pekerjaan.

Hari ini mungkin baru empat pemuda.
Besok bisa empat puluh.
Kemudian empat ratus.
Dan bukan tidak mungkin suatu hari nanti desa-desa di Sidenreng Rappang dipenuhi pemuda yang menjadi petani modern, peternak profesional, pembudidaya ikan, pengusaha hasil pertanian, penyedia jasa mekanisasi, pedagang, pengolah hasil dan pelaku ekonomi kreatif.
Jika itu terjadi, maka pembangunan ekonomi tidak hanya bergerak dari atas ke bawah.
Dari rumah-rumah.
Dari kandang.
Dari sawah.
Dari kolam.
Dari kebun.
Dari mesin-mesin pertanian.
Dan dari tangan pemuda sendiri.
Karena pembangunan daerah bukan hanya tentang jalan yang dibangun.
Bukan hanya gedung yang berdiri.
Bukan hanya angka pertumbuhan ekonomi.
Herianto dengan telur puyuhnya.
Angga Resky dengan sapi dan kerbaunya.
Paddy dengan mekanisasi pertaniannya.
Suparman dengan nila dan masnya.
Mereka adalah empat wajah nyata dari satu pesan besar:
Dan mungkin inilah saatnya masyarakat melihat pemuda desa bukan hanya sebagai pencari kerja, tetapi sebagai:
Karena ketika satu pemuda memilih berkarya, satu keluarga dapat bergerak.
Ketika puluhan pemuda mulai berusaha, satu desa dapat tumbuh.
Dan ketika ribuan pemuda produktif bergerak bersama:
LAGADING MENANAM.
PEMUDA BERKARYA.
DESA MENGHASILKAN.
SIDRAP MEMANEN MASA DEPAN.
“Ketika pemuda memilih untuk menghasilkan, sesungguhnya mereka sedang menanam masa depan daerahnya.”
Dari Desa Lagading, untuk Sidenreng Rappang yang produktif, mandiri, sejahtera dan membanggakan.
Bagikan:

Desa Lagading
Kecamatan Pitu Raise
Kabupaten Sidenreng Rappang
Provinsi Sulawesi Selatan
© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini